web stats
Legenda

Tongkat Eyang Wali Berubah Menjadi Pohon Jati di Sukawening

Tumbuhnya Pohon Jati dari Tongkat Peninggalan Eyang Wali di Sukawening Garut

RAKSAGARUTNEWS.COM – SUKAWENING

Pada kakikatnya pembudidayaan pohon jati secara konvensional, biasanya dikembang biakan dengan jalan menanamkan bijinya. Realita itu begitu bertolak belakang sekali dengan kisah Eyang Rangga Wulung yang lebih familiar disebut Eyang Wali. Beliau menanam jati bukanlah dengan biji, melainkan langsung menancapkan cabang pohon jati dari Cirebon yang awalnya dijadikan tongkat. Kemudian tongkat itu ditancapkan dengan kekuatan karomahnya langsung tumbuh secara ajaib sebagaimana ilaharnya. Kini keberadaan tongkat Eyang Wali yang menjadi pohon jati tersebut masih berdiri tegak sebagai saksi bisu.

Peninggalan Eyang Wali tersebut, bukan hanya sekedar meninggalkan historis lisan belaka. Akan tetapi pohon jati itu kini masih terbukti berdiri tegak dengan ketinggiannya sekitar 10 m di Kampung Jati RT 02 RW 04 Desa Mekarwangi, Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut Jawa Barat tepatnya di pesawahan blok Jati di atas pematang sawah milik Oman.


Menurut Bah Ita Paudi tokoh masyarakat tulen dari kampung tersebut yang akrab disapa Pak Udi menyampaikan, munculnya sejarah asal mula pohon jati yang tumbuh hanya 1 pohon di Kampung Jati, terungkap tatkala ayahandanya bernama Paudi mendengarkan penuturan dari gurunya bernama Eyang Jamsa’i yang mengisahkan tentang Eyang Rangga Wulung, atau Eyang Wali menetap di Kampung Jati.

Kata Bah Ita, Eyang Jamsa’i kala itu menuturkan,Eyang Rangga Wulung itu hidup semasa dengan Sunan Gunung Jati. Bahkan para leluhurnya mengatakan, bahwa Eyang Rangga Wulung sudah digelari Eyang Wali karena kelebihannya dalam ilmu bela diri yang terkenal dengan Pencak Silat Jati karuhunan, serta tubuhnya kebal dari senjata tajam serasi dengan namanya Rangga Wulung.

Dikisahkan, pada tahun 1529 Masehi, ketika para wali mengadakan riungan di Mesjid Demak untuk membicarakan Ilmu Tanpa Tendeng Aling-Aling yang diteruskan di Mesjid Agung Cirebon, hingga pada Rabu pertama bulan Sapar Tahun 1529 telah terjadi peristiwa Pengadilan Wali Sanga Jawadwipa untuk menghukum Syeh Lemah Abang (Syeh Siti Jenar) oleh Sunan Kudus dengan keris Kaki Kanta Naga pusaka Sunan Gunung Jati.

Eyang Jamsa’i menyampaikan, konon tatkala para wali mengadakan riungan di Mesjid Demak untuk membicarakan Ilmu Tanpa Tendeng Aling-Aling yang diteruskan di Mesjid Agung Cirebon, hingga ada peristiwa Pengadilan Wali Sanga Jawadwipa. Saat itu Eyang Rangga Wulung turut serta menyaksikannya.

Tak lama kemudian, para waliyullah itu pergi meninggalkan Mesjid Agung Cirebon menuju ke tempat tujuannya masing-masing. Begitu juga Eyang Rangga Wulung, setelah mengikuti riungan di Mesjid Demak dan Mesjid Agung Cirebon, ia langsung pamitan kepada Kanjeng Sunan Gunung Jati sambil membawa sebatang cabang pohon jati dan bambu bidadari (bambu haur) menuju suatu tempat sesuai dengan petunjuk dari hati nuraninya.

Sepanjang perjalanannya menuju ke suatu kampung (kini disebut dengan Kampung Jati), Eyang Rangga Wulung tetap mengamalkan syariat Islam. Setiap perkampungan yang dilaluinya, maupun disinggahinya, seperti di wilayah perkampungan Sumedang Larang, Leles, Leuwigoong, Cibatu, Sukawening, Wanaraja, dan Karangpawitan, ternyata banyak penduduk yang merasa utang budi karena telah ditolong dengan keajaiban karomahnya Eyang Rangga Wulung. Sehingga mereka pun memanggilnya dengan nama Eyang Wali.

Setibanya Eyang Rangga Wulung di kampung yang ditujunya (sekarang Kampung Jati), Ia tetap patuh mengamalkan sariat Islam Kesehariannya tak terlepas dari siar Islam dan mengajarkan Pencak silat Jati karuhunan yang diiringi karomah sebagai anugrah dari Allah SWT. Salah satu bukti nyata dari karomahnya adalah tongkat jati dari Cirebon itu, kemudian ditancapkan berubah menjadi pohon jati.

Berdasarkan penuturan dari Eyang Jamsa’i, ujar Bah Ita, maksud dan tujuannya Eyang Rangga Wulung menancapkan tongkat jati itu, tiada lain sebagai tanda akan menghilangnya Eyang Wali dari alam dunia menuju ke alam abadi yang disusul dengan menancapkan sebatang pohon bambu bidadari di pemakaman Jati.

Sebelum menghilang (tilem), Eyang Rangga Wulung semasa hidupnya pernah menitipkan amanah kepada para muridnya. Diantaranya yang masih teringat dalam benak Bah Ita yang disampaikan oleh ayahandanya dari Eyang Jamsa’i, yaitu pertama, ketika akan menghilang (tilem), Ia memerintahkan kepada murid pilihannya supaya mencari bekas menghilang raganya di dekat bambu bidadari yang telah ditanamnya. Di lokasi itu agar dibikin ciri berupa kuburan dengan bebatuan. Tolong, kata Eyang Rangga Wulung, kuburan itu dipelihara oleh keturunan Paudi!

Amanat yang keduanya, yakni mengenai Uga Eyang Wali tentang ramalan presiden di Indonesia yang akan menciptakan Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur, yakni sebuah negeri yang subur dan makmur, adil dan aman.

Saat ini peninggalan Eyang Wali, selain tongkatnya yang telah berubah menjadi pohon jati, oleh para muridnya diabadikannya menjadi nama Kampung Jati, dan ilmu bela dirinya yang terkenal dengan Jatikaruhunan, kini dilestarikannya menjadi kelompok seni pencak silat yang diberi nama Paguron Pencak Silat Jatikaruhunan. Begitu juga makamnya di Astana Jati, tetap dirawatnya oleh Bah Ita Paudi yang kini menjadi juru kunci makam keramat tersebut. (Darma)

Tag
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker