web stats
Misteri

Batu di Sungai Cimanuk Garut Diduga Prasasti Buaya

Sebongkah Batu Besar, Diduga Prasasti Buaya di Sungai Cimanuk Garut

RAKSAGARUTNEWS.COM – CIBATU

Jika di sekitar sungai-sungai yang ada di Provinsi Jawa Barat,  sudah terbukti banyak ditemukan prasasti-prasasti peninggalan nenek moyang kita, seperti  Prasasti Jayabupati pada empat batu bertuliskan huruf berbahasa Jawa Kuno ditemukan di aliran Sungai Cicatih di daerah Cibadak Kabupaten Sukabumi. Siapa tahu di aliran sungai Cimanuk Kabupaten Garut ada prasasti peninggalan para leluhur orang Garut sebagaimana yang pernah dilihat oleh Asep Suhendi dari Kampung Cigalumpit Desa Sindangsuka Kecamatan Cibatu Garut. Katanya ia pernah melihat sebongkah batu besar seperti dihiasi relief-relief dan tulisan yang unik.

Sebongkah Batu Besar, Diduga Prasasti Buaya di Sungai Cimanuk Garut
Asep Suhendi yang pertama melihat Batu bertulis yang menduga Prasasti

Waktu itu Jum’at pagi tanggal, 6 Juni 2013 bertepatan dengan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW (27 Rajab 1434 H), saya bermain ke tempat Pasiripis bersama  Dadang Sujana yang membuka lokasi untuk membangun Villa saudaranya di tempat itu. Kemudian, saya turun kepantai Sungai Cimanuk yang banyak  bongkahan-bongkahan  batu.

Subhanalloh, pas melihat batu besar, batu itu nampak seperti bertulis. Beberapa menit saya terpaku melihatnya. Akhirnya, saya naik lagi ke Pasiripis untuk memberi tahu kepada Dadang Sujana. Apa benar, batu tesebut bertulis? Jangan-jangan,   mata saya salah penglihatan. Kemudian saya dan Dadang turun lagi ke pantai Sungai Cimanuk untuk melihatnya kembali. Dadang juga setelah melihat dengan kasat matanya langsung membenarkan bahwa batu itu seperti bertulis,” papar Asep Suhendi yang mengaku penuh dengan rasa heran.

Padahal menurut pria kelahiran tahun 1964 itu, dirinya sudah lebih dari hitungan ratusan kali tatkala beraktivitas memancing dan menjaring ikan di Sungai Cimanuk menginjak bongkahan batu besar tersebut. “Mungkin pada waktu memancing atau menjaring ikan, konsentrasi saya hanya pada titik-tik medan yang akan dilalui dan lokasi tempat menjaring maupun memancing saja yang tersirat dibenak saya. Waktu itu tak pernah terpikirkan, bahwa disekitar tempat tersebut ada batu bertulis,” tutur Asep Suhendi sewaktu bersua dengan penulis di tempat kediamannya di Kampung Cigalumpit RT.03 RW.07 Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Kabupaten  Garut, Provinsi Jawa Barat.

Untuk lebih meyakinkan, Peliput mengajak narasumber mengunjungi lokasi dimana Batu Bertulis itu berada. Sehubungan pada waktu itu musim penghujan, keadaan air pun lagi meluap.  Alhasil, Asep pun tak sanggup berenang untuk memotret batu itu dari jarak dekat. Akhirnya penulis berusaha memotret batu tersebut, jaraknya sekitar 5 Meter dengan cara di-zoom-kan dari atas tebing Pasiripis Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu Garut.

Setelah sebongkah batu hitam yang diduga bertulis dibidik dengan kamera 12  mega pixel, kemudian kami sama-sama mengamati gambar batu yang ada di kamera.  Nampak pada batu itu, seperti ada tulisan-tulisan yang dihiasi dengan relief-relief yang menyuguhkan, antara lain pada bagian depan pinggir batu ada pahatan yang melukiskan mirip kepala kerbau, serta pada sebagian tengahnya ada pahatan-pahatan berupa tulisan.  Sedangkan pada bagian samping belakang batu, ada pahatan menyerupai buaya besar lagi menelungkup ditunggangi oleh seekor buaya kecil. Lalu pada bagian belakang samping batu, ada pahatan seekor monyet sembari merangkul erat ekor buaya kecil ditopang buaya lagi yang diikuti dari belakangnya oleh seekor buaya.

Realita dari relief-relief pada bongkahan batu hitam yang didominasi oleh pahatan-pahatan lukisan buaya tersebut, tanpa disadari malah mengarahkan pikiran Peliput melayang   teringat akan cerita dari orang tuaku yang menuturkan, bahwa pada aliran  Sungai Cimanuk dari Garut sampai ke perbatasan Kabupaten Indramayu, sampai kapanpun tidak akan ada buaya. Karena buaya dari kawasan aliran Sungai Cimanuk yang ada di Kabupaten Indramayu, dikabarkan tidak mampu menyeberang menuju wilayah Garut.

Konon menurut sumber dongeng yang tersiar secara turun temurun, mengisahkan, pada jaman dahulu,  katanya ada dua ekor buaya, yakni buaya jantan dan betina, hendak mengarungi aliran Sungai Cimanuk dari Indramayu menuju ke Daerah Aliran Sungai Cimanuk Garut (DAS Cimanuk Garut) di wilayah perbatasan antara DAS Cimanuk Garut dan DAS Cimanuk Indramayu ada bagian badan sungai yang terjal mengalirkan air menjadi air terjun. Otomatis sejoli buaya itu kesulitan berenang untuk memanjat medan badan sungai yang terjal tersebut.

Berdasarkan ujar cerita,  dua ekor buaya itu tetap berusaha berenang menaiki bagian badan  sungai yang terjal. Akan tetapi,  jika buaya jantan bisa memanjat, buaya betina tidak bisa memanjat. Begitu pula, apabila buaya betina bisa memanjat, malah buaya jantan menjadi tak bisa memanjat. Ternyata kedua buaya itu berakhir dengan peribahasa Hasrat Hati Memeluk Gunung Apa daya Tangan Tak Sampai.  Akhirnya karena bagian badan sungai yang terjal tersebut, sepasang buaya itu tidak bisa memasuki DAS Cimanuk Garut.

Terkait dengan dongeng tersebut, mungkin saja bongkahan batu hitam dengan relief-relief buaya pada batu bertulis yang ada di DAS Cimanuk antara Desa Sindangsuka Kecamatan Cibatu, dan  DAS Cimanuk Cibiuk Kecamatan Cibiuk, adalah Prasasti Buaya peninggalan nenek moyang kita yang mengisahkan, bahwa di Sungai Cimanuk Garut bebas dari buaya.

Iya, atau tidaknya, biarlah dikemudian hari para ahli arkeolog untuk menyibak tirai misteri keberadaan dari batu yang diduga bertulis itu, sehingga terungkap makna yang sebenarnya. Siapa tahu akan menghidangkan sebuah gambaran, bahwa di situ ada  peninggalan jaman nenek moyang kita, atau fenomena adanya suatu peninggalan kerajaan di wilayah tersebut. ℗ Darma.

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker