web stats
Mitos

Jin Penanam Bambu dari Gunung Cihurang

Jin Raksasa Penghuni Gunung Cihurang Mengaku Sebagai Penanam Bambu

RAKSAGARUTNEWS.COM – PASIRWANGI

Biasanya khalayak ramai, jika suatu saat pas melihat pohon bambu yang tumbuh di jurang-jurang (ngarai-ngarai) maupun di tempat-tempat yang curam,  akan menyangka, bahwa pohon bambu itu tumbuh dengan sendirinya, Hal itu sangat kontroversi sekali dengan dongeng Bah Oman yang didengar langsung  dari Ki Sarnasik. Menurut cerita Ki Sarnasik, bambu yang tumbuh di jurang-jurang itu, ada yang menanamnya, yakni bangsa jin  yang bertubuh raksasa bernama Jaya Wisnu.

“Bangsa jin yang berwujud makhluk raksasa penghuni Gunung Cihurang itu,  katanya  mengaku sebagai penanam bambu,” tutur Bah Oman yang lahir tahun 1952 di Kampung Talaga, Desa Talaga, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut Jawa Barat, sewaktu bersua di Panti Gorim Babakan Kandang Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu – Garut Jawa Barat,

Dikisahkannya, pada jaman dahulu, di Kampung Talaga Kecamatan Pasirwangi, hidup seorang kakek separuh baya bernama Ki Sarnasik. Mata pencaharian sehari-harinya hanyalah sekedar pencari daun pisang.

Biasanya Ki Sarnasik mencari daun pisang untuk  dijual ke Pasar Samarang pergi ke Gunung Cihurang sehabis Shalat Subuh. Namun pada suatu saat, entah apa yang terjadi? Ki Sarnasik pergi ke hutan tersebut sekira jam 2 malam. Ia menyangka, waktu itu kesiangan. Maka dari itu ia bergegas pergi untuk mencari daun ke  hutan Gunung Cihurang.

Langkahnya begitu  tergesa-gesa menuju ke hutan tersebut. Padahal kala itu malam hari pukul 02.00 WIB. Akan tetapi suasananya terang bulan. Sehingga kesannya seperti waktu subuh.

Sesampainya di Gunung Cihurang, sebelum Ki Sarnasik  mencari daun pisang, ia mendengar  tangisan bayi, dan suara ibunya lagi membujuk anaknya supaya tangisannya mereda.  Sayangnya, bayi itu masih terus tak henti menangis.

Saking penasaran, Ki Sarnasik terus melangkah perlahan menuju dimana tempat suara bayi menangis dan ibunya yang lagi membujuk dengan penuh kasih sayang.

Di luar kesadarannya, Ki Sarnasik sambil melangkah malah berbicara  sendiri, “Mengapa ada tangis bayi dan ibunya di hutan belantara ini. Apakah ada seorang isteri yang dibuang? Lalu ia melahirkanya?” guman Ki Sarnasik dengan langkah kaki mengintip mendekati ke posisi suara tangis bayi yang terdengar kian keras menangis.

Seketika tubuh Kakek separuh baya itu, mendadak bergemetar. Parasnya berubah menjadi pucat pasi. Ekspresinya diselimuti rasa takut. Bulu romanya berdiri merinding.  Matanya melongo memandang hampa ke arah seorang wanita bertubuh raksasa lagi menimang-nimang bayinya.

Tiba-tiba wanita bertubuh raksasa itu berkata: “Hey Ki Sarnasik, cepat ke sini! Tolonglah aku!” Suaranya bergema menggetarkan wilayah Gunung Cihurang.

Perasaan  Kakek separuh baya itu benar-benar semakin ketakutan. Rasanya ingin menjauh dengan berlari kencang, dan menjerit keras meminta tolong. Namun kakinya terasa berat untuk dilangkahkan, dan bibirnya  kelu seperti terkunci. Akhirnya ia terdiam seperti patung.

“Jangan takut, Ki Sarnasik! Lekas kesini! Tolonglah aku!” ujar wanita itu.

Anehnya setelah kedua kalinya sesosok wanita raksasa bangsa jin itu memanggil namanya,   perasaan Ki Sarnasik tidak lagi dihantui rasa takut.

Ia segera mendekatinya, lantas berucap, “Apa yang bisa aku bantu, Nyimas?” tanya Ki Sarnasik, wajahnya tengadah melihat paras wanita tersebut.

Sambil jongkok wanita raksasa itu berkata: “Ki Sarnasik, tolong temui suamiku!  Namanya Jaya Wisnu. Kini suamiku lagi berada di Pasar Samarang. Beritahukanlah, bahwa aku baru saja melahirkan,” pesannya menyuruh Ki Sarnasik.

Roman kakek separuh baya itu mendadak ke bingungan. Ia tak memberikan jawaban sepatah katapun.  Soalnya jarak tempuh ke Pasar Samarang itu sangat jauh sekali. Ki Sarnasik pun diam seribu basa.

“Jangan bingung, Ki Sarnasik!” seru wanita bertubuh raksasa, seraya berkata: “Pakailah cincinku ini! Cepat susulah suamiku!” titahnya sambil menaro cincin  dihadapan Ki Sarnasik.

Begitu ajaib sekali. Sewaktu cincin itu dilepasnya. Lantas ditaronya dihadapan Ki Sarnasik, tiba-tiba cicin yang sanggat besar itu seketika berubah menjadi mengecil sebagaimana cicin yang umumnya dipakai oleh bangsa manusia.

“Cepat pakailah cincin itu, Ki Sarnasik. Sesungguhnya cincin itu bisa mengantarkanmu, kemana saja yang kau kehendaki. Asal kau perintah si penghuni cincin itu,” serunya.

Ki Sarnasik pun segera memakainya. Lantas berseru: “Hey penghuni cincin, antarkanlah Aku ke Pasar Samarang untuk menemui, Jaya Wisnu,” ucapnya.

Dengan sekejap mata Ki Sarnasik tiba dihadapan jin bernama Jaya Wisnu yang sosoknya menjulang tinggi. Hingga tinggi tubuh si Kakek paruh baya hanya sebatas pergelangan kaki bangsa jin itu.

Herannya tatkala Ki Sarnasik berada di hadapan Jaya Wisnu, ternyata bangsa jin itu sudah tahu nama panggilan si Kakek.

Lalu bangsa jin yang berjuluk Jaya Wisnu berucap: “Hey Ki Sarnasik, ada apa kau datang kemari,” sapa bangsa jin yang bernama Jaya Wisnu. Suaranya bergema.

Ki Sarnasik: “Aku disuruh oleh istrimu, untuk mengabarkan, bahwa istrimu sudah melahirkan,” jawab  Ki Sarnasik. Suaranya begitu nyaring sekali.

Jaya Wisnu mendengar kabar dari Ki Sarnasik, langsung girang tertawa terbahak bahak. Membuat tubuh Ki Sarnasik bergetar semakin ketakutan.

“Jangan takut, Ki Sarnasik! Mari kita pergi ke Gunung Cihurang! Disana istriku lagi menunggu. Mari kita pergi, Ki!” ajak Jaya Wisnu. Seraya memegang tubuh Ki Sarnasik. Lalu dimasukan ke dalam saku bajunya.

Bagaikan kilat gerakan tubuh bangsa jin itu. Hanya sekejap saja, Jaya Wisnu dan Ki Sarnasik tiba ke suatu tempat   di Gunung Cihurang.

Setibanya Jaya Wisnu dan Ki Sarnasik di gunung tersebut, lalu bertemu dengan istrinya. Namun saat itu tak ada kisah yang diceritakan.

Selanjutnya  dipenghujung pertemuan antara Ki Sarnasik dengan Jaya Wisnu, kemuudian Ki Sarnasik di bawa oleh Jaya Wisnu keliling Indonesia menuju lembah-lembah dan jurang-jurang curam untuk melihat pohon-pohon bambu, serta mengajak orang tua separuh baya itu menanam bambu, seperti di kepulauan Sumatra.

Kepada Ki Sarnasik, bangsa jin bernama Jaya Wisnu itu lalu  memberitahukan dan sekaligus  mengaku, bahwa pohon-pohon bambu yang tumbuh di lembah-lembah, dan jurang-jurang curam di  Indonesia, bukan serta merta tumbuh dengan sendirinya, melainkan sengaja ditanami oleh Jaya Wisnu.

“Selain itu, kata Ki Sarnasik kepada Bah Oman, jika satu saat kamu ke Sumatra, coba lihat di jurang, seperti di jurang Kwali. Di jurang tersebut, Aki pernah ikut menanam bambu dengan Kang Jaya,” ujar Bah Oman yang kembali mengutip dongeng pengalaman dari Ki Sarnasik, tatkala bertemu dan bersahabat dengan bangsa jin. “Bahkan saking akrabnya, Ki Sarnasik,  menyebut kepada bangsa jin yang bernama Jaya Wisnu dengan sebutan, Kang Jaya,”  pungkas Bah Oman. Darma.

Tag
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker