web stats
Ekonomi

Kepala UPT PUPR Sukawening Sosialisasikan Belatung Lalat Buah

Belatung Lalat Buah Disosialisasikan Kepala UPT PUPR Sukawening Garut

RAKSAGARUTNEWS.COM – SUKAWENING

Hingga saat ini masyarakat awam, masih memandang belatung (berenga, atau tempayak) sebagai mikro organisme yang menjijikan. Pasalnya belatung atau Larva (serangga berupa ulat yang belum dewasa) selalu ditemukan pada material-material yang busuk, seperti buah-buahan,  bangkai, dan sayur-sayuran. Akibatnya mereka tidak melirik dengan sebelah mata.

Malahan bila suatu saat masyarakat awam menemukan belatung,  dengan spontanitas dicampakannya, atau dibunuhnya. Karena organisme yang satu ini dianggap bakal serangga merugikan.

Belatung Lalat Buah Disosialisasikan Kepala UPT PUPR Sukawening
Edi Kusnadi,S.Sos, Kepala UPT PUPR Sukawening

Realita itu sangat berbeda sekali dengan Kepala UPT Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sukawening, Edi Kusnadi, S.Sos. Menurutnya, kendatipun bagi beberapa jenis Belatung bersifat merugikan, terutama bagi para petani, seperti belatung  (larva) lalat buah. Akan tetapi secara alami sangat bermanfaat sekali dalam proses penguraian bahan-bahan organik serta memiliki nilai ekonomi tinggi  jika dibudidayakan.

Bahkan di dunia ilmu kedokteran, imbuhnya, belatung dari beberapa jenis lalat yang terbukti memakan daging, bisa dimanfaatkan untuk membersihkan luka. Begitupun bagi para ilmuwan forensik, belatung sangat berguna sekali dalam rangka mendeteksi lamanya waktu sejak kematian, maupun tempat organisme bersangkutan mati yang ditemukan pada mayat.

Kepala UPT PUPR mengatakan, awalnya mulai tertarik dengan mikro organisme berupa belatung pada tahun 2000, yakni sewaktu membuat kompos.  Kala itu ia lagi mengembangkan pupuk organik, dengan bahan bakunya, seperti buah-buahan yang busuk, dan jerami. Pada bahan-bahan baku organik tersebut, ketika diperhatikan, terlihat bermunculan mikro organisme, seperti  rayap, ulat, semut, cacing dan belatung.

Sambil melihat jenis-jenis organisme-organisme yang muncul sewaktu proses pembuatan pupuk organik, tiba-tiba Edi terinspirasi untuk mengembangkan pembuatan kompos dengan menggunakan mikro oganisme belatung sebagai pengurainya. Kemudian ia mengadakan percobaan membuat kompos dengan penguraiannya belatung. Alhasil prosesnya dalam pembusukan bahan-bahan organik lebih cepat dibanding menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) berupa bakteri yang sering ia manfaatkan.

Menurut Edi, tiga bulan ke belakang (pada bulan Juli 2018) dengan dipandu oleh berbagai referensi, ia langsung memperhatikan jenis-jenis lalat, diantaranya lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Calliphora vomitoria), lalat daging (Family – Sarcophagidae), dan lalat buah (Drosophila melanogaster) dari mulai prilaku hidupnya, waktu bertelur, usia telur menetas, lahirnya belatung (larva), serta usia hidup lalat paling lama 4 minggu.

Setelah diperhatikan, kata Edi, ketika lalat itu akan mati, lalat tersebut selalu meninggalkan telur, sampai 1.000 telur dalam  sekali reproduksi.

“Tentunya apabila telur-telur lalat itu dibiarkan, niscaya akan menimbulkan kerugian bagi kita. Namun, jika telur lalat itu kita manfaatkan, pasti akan menjadi bahan alternatif sebagai solusi pakan ternak,” ujarnya.

Selanjutnya Edi membudidayakan lalat buah yang dianggap sebagai lalat ramah lingkungan, dengan memunggut belatung-belatungnya untuk dijadikan sebagai solusi pakan ternak.

Ternyata, kata Edi, beberapa jenis belatung bukan hanya bermanfaat bagi dunia forensik, maupun kedokteran saja. Atau beberapa jenis belatung dianggap merugikan para pelaku tani, seperti halnya belatung dari jenis lalat buah yang selalu merugikan para petani. Padahal jika lalat buah dibudidayakan, selain bisa dimanfaatkan untuk membuat kompos, juga  bisa menjadi solusi pakan ternak buat para peternak ikan ataupun ayam yang selama ini dihadapkan dengan harga pakan yang mahal.

Saat ini Kepala UPT Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sukawening bersama  Kasi PMD Kecamatan Sukawening, terus mensosialisasikan daur ulang sampah organik untuk pemberdayaan masyarakat. Salahsatunya adalah menanggulanggi sampah di setiap rumah dengan mensosialisasikan pelatihan budidaya lalat buah, dan membikin kompos, seperti  sosialisasi belatung kepada perangkat Desa Sukaluyu, serta memberikan pelatihan budidaya lalat buah kepada Karang Taruna Desa Pasangrahan, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut Jawa Barat.

Belum lama ini, sewaktu Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Sukawening yang akrab disapa Yudi mendampingi Edi Kepala UPT PUPR mengadakan sosialisasi mengenai belatung dari hasil budidaya lalat buah, Yudi mengatakan,  kami mengharapkan kepada pemerintah desa yang ada di wilayah Kecamatan Sukawening,  selain kegiatan pembangunan infrastruktur, pemerintah desa sudah seyogyanya menumbuh kembangkan pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat, seperti halnya pemanfaatan sampah organik dan non organik supaya memiliki nilai ekonomi. (Dama/Eko).

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker