web stats
Aneka Peristiwa

Kartosuwiryo 8 bulan Sembunyi di Karangtengah Garut

Kartosoewiryo Imam DI/TII 8 bulan Bersembunyi di Rimba Karangtengah Garut

RAKSAGARUTNEWS.COM – KARANGTENGAH

Sekar Maji Maridjan Kartosuwiryo adalah Iman DI/TII yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) 7 Agustus 1949 di Desa Cisayong Tasikmalaya. Sang Imam DI/TII yang familiar bernama Kartosuwiryo, sebelum  ditangkap tentara Siliwangi  pada 4 Juni 1962, dan meninggal dunia (September 1962) dengan cara dieksekusi militer, ternyata sempat bersembunyi di area hutan belantara di wilayah Kecamatan Karangtengah selama 8 bulan bersama anak isterinya dan 6 peleton pasukannya yang selalu digembleng dengan berbagai ilmu.   

Kartosuwiryo 8 bulan Sembunyi di Karangtengah Garut
Aki Ili Komandan Seksi dari Pasukan Kalipaksi DI-TII, kini telah meninggal dunia

“Pasukan DI/TII di bawah pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang singgah di Kawasan hutan belantara Kecamatan Karangtengah diperkirakan masuknya pada bulan Januari tahun 1950. Pasukan-pasukan itu, antara lain Pasukan Jenal Abidin, Kalipaksi yang dipimpin Mayor Jendral Enoh dari Cinunuk Kecamatan Wanaraja, Pasukan Cakrabuana dari Malangbong dengan komandanya adalah H. Butong, Pasukan Ahmad Sungkawa asal Cianjur, dan Pasukan Jendral Arsad dari Tasik,” ungkap Komandan Seksi dari Pasukan Kalipaksi DI/TII yang akrab dipanggil Aki Ili.

Menurut Aki Ili, ada 3 tempat persembunyian Kartosuwiryo sewaktu berada di wilayah Hutan Belantara Kecamatan Karangtengah bersama balad tentaranya serta isterinya, Neng Wiwi (Dewi Siti Kalsum Putra Raden Ardikusuma dari Situ Saeur) dan anak-anaknya (Neng Ukuk, Darda/Dodo Muhamad Darda), Mimid/Tachmid Basuki Rahmat), serta 1 anaknya yang masih dieyong.

Ketiga tempat yang pernah dijadikan tempat persembunyian Kartosuwiryo di wilayah Kecamatan Karangtengah, pertama bermukim di Situ Tajimalela, kedua di  Bukirmagalaya,  dan ketiga di Panganisan. Setiap pindah menempati lokasi baru, Sang Imam DII/TII selalu membangun gubug-gubug sebagai tempat peristirahatannya.

Aktivitas sehari-hari balad tentara Kartosuwiryo yang berjumlah 6 peleton selama bermukim tempat tersebut, antaralain tentaranya terus disiplin ilmu berlatih siasat perang, belajar olahraga beladiri dan dibekalinya pembinaan disiplin ilmu keagamaan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Bagi Aki Ili jadwal latihannya ditetapkan setiap hari Rabu mulai dari jam 14.00 – 16.00 WIB. Selain itu setiap pasukan digilirnya untuk menjaga keluarga Kartosuwiryo beserta  anak istrinya, dan 3 buah peti besi. Jaraknya ke  tempat objek penjagaan kurang lebih 20 m.

“Akan tetapi, ketika Pak Imam berangkat untuk melaksanakan shalat Jum’atan selama 8 bulan di wilayah Desa Caringin Kecamatan Karangtengah, selalu berangkat  sendiri dari tempat persembunyiannya tanpa ada pengawalan yang ketat dari pasukan Sabilillah dan Hizbullahnya,” tutur Aki Ili.

Kata Aki Ili, mesjid yang biasa digunakan sebagai tempat beribadah shalat Jum’at oleh Kartosuwiryo adalah Mesjid Al-Jamaah (sekarang, Mesjid Jami Cihanja 1) yang didirikan oleh H. Abdulrohim ( Eyangnya Aki Ili).

Disamping itu, imbuhnya, penampilan Pak Imam memang sederhana. Kesehariannya selalu berpakaian baju hitam berjas hitam, dan kebawahnya mengenakan kain sarung, serta bagian kepalanya tak lepas dari peci hitam. Setiap hari beliau memberikan santapan rohani Al-Qur’an dan Hadist kepada pengikutnya.

“Apabila melaksanakan shalat wajib 5 waktu, yaitu Shalat Subuh, Dzuhur, Asyar, Magrib dan Isya, Pak Imam selalu menyerukan shalat berjemaah. Disaat hendak mengambil wudu, ada kebiasaan yang aneh dari Sang Imam DI/TII, yakni bukan senjata bertimah panas yang dirogoh dari saku bajunya, atau badik maupun  senjata tajam yang dikeluarkannya, namun Al-Qur’an kecil bercepuk warna emas selalu dibawanya kemanapun Pak Imam pergi.  Intinya kemanapun Pak Imam pergi,  tidak membawa senjata dalam bentuk apapun, kecuali Al-Qur’an kecil bercepuk kuning emas,” papar Aki Ili.

Memang luar biasa sekali dari sosok Pak Imam itu, puji Aki Ili, diantaranya lebih dari 2000 hadist tentang ketatanegaraan hafal dibenaknya. Bahkan, 30 zuj Kitab Suci Al-Qur’an sudah di luar kepalanya. Makanya para pengikut DI/TII itu kebanyakan dari pondok pesantren. “Contohnya Aki sendiri, ketika bergabung dengan Pak Imam, waktu itu baru 1,5 tahun belajar di Pondok pesantren Tanjungpura Garut,” ujar Komandan Seksi I pasukan Kalipaksi DI/TII di tempat kediamannya di Kampung Jumre Desa Caringin Kecamatan Karangtengah Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat.

Singkat cerita, kata Aki Ili,   setelah Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo sembunyi selama 8 bulan di wilayah  Kecamatan Karangtengah, lalu bertolak ke Gunung Galunggung. Sedangkan Aki Ili tetap bergerilya bersama pasukan Kalipaksi di bawah Pimpinan Mayor Jendral Enoh selama 3 tahun terus berpindah-pindah tempat, diantaranya ke Gunung Awibulu (Karangtengah), Parentas (Wanaraja), Kareo (Wanaraja), Puncaksalam (Karangtengah), dan Batulawang (Karangtengah).

Akhirnya pada tahun 1954 Aki Ili dengan membawa senjata geren (garand) langsung menyerahkan diri kepada tentara Siliwangi. Selanjutnya Komandan Seksi dari Pasukan Kalipaksi DI/TII dibui selama 40 hari di Gedung Anta Kecamatan Wanaraja. Sepulangnya dari penjara, Aki Ili yang mengaku lahir tahun 1922, kembali lagi berbaur dengan masyarakat.  ℗ Darma.

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker