web stats
Pendidikan

Nasib Guru Sukwan Lebih Tragis dari Lagu Oemar Bakrie

33 Tahun Jadi Guru Sukwan, Nasib Dede Lebih Tragis dari Lagu Umar Bakrie Iwan Fals

RAKSAGARUTNEWS.COM – CIBIUK

Jika pada lirik lagu karya Iwan Fals yang berjudul Umar Bakrie mengisahkan, nasib Umar Bakrie pada jaman Jepang telah menjadi pegawai negeri, serta, apabila berangkat ke sekolah sudah naik sepeda kumbang (sepeda yang dilengkapi dengan motor), biarpun sepedanya butut.  Hal itu sangat jauh berbeda dengan nasib Dede Ahmad Riswandi, alias Aki Aceng, meskipun sudah 33 tahun mengabdi jadi guru sukwan, hingga saat ini belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bahkan setiap harinya bila pergi mengajar, bukan naik sepeda kumbang, melainkan berjalan kaki pakai sepatu bekas dari tempat sampah. Sehingga nasibnya lebih tragis dari Umar Bakrie.

Terkait dengan hal tersebut  Dede Ahmad Riswandi menuturkan, tahun 1985 merupakan tahun pertama dalam mengabdikan diri sebagai guru di MTS Al-Zafariyah di Kampung Pesantren Tengah Desa Cibiuk Kidul Kecamatan Cibiuk, Kabuapten Garut Jawa Barat. Waktu itu, Ia dipercaya menjadi pelaksana teknis pendidikan sebagai guru kelas 1 hingga kelas 3 dengan mengajarkan bidang study Bahasa Sunda, serta merangkap mengajar Bahasa Inggris, Olahraga dan Kesenian(ORKES), juga menjadi pembina OSIS, Pramuka tingkat SLTA dan pengurus Pramuka Kwaran.

Dede Ahmad Riswandi, setiap hari kerja berangkat selalu jam 06.30 WIB menuju ke MTS Al-Zafariyah. Meskipun memotong jalan,  Sang Guru Sukwan  itu bolak balik dari rumahnya yang berlokasi di Kampung Situbatu RT.O2, RW.08, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, menuju sekolah tersebut dengan jarak tempuh per harinya sejauh 8 km.

Ada dua jalur jalan yang biasa dilaluinya menuju ke MTS Al-Zafariyah. Apabila musim hujan, Aki Aceng pergi ke sekolah berjalan kaki melintasi jalan raya Cibiuk dan jalan desa sejauh 4 Km. Ia berjalan di bawah guyuran hujan  dengan menggunakan peneduh daun pisang. Celana panjangnya selalu dilipat sampai sebatas lutut. Langkah kakinya setengah berlari melewati jalan Desa Cibiuk Kidul yang masih becek (berbeda dengan jalan desa saat ini). Hal itu demi memburu waktu pukul 07.30 WIB tiba di MTS Al-Zafariyah.

Sedangkan menjelang musim kemarau, Aki Aceng menuju ke MTS Al-Zafariyah, selalu berangkat memotong jalan melalui pemantang sawah, jalan kebun, dan jalan lingkungan perkampungan, bukan naik speda kumbang, melainkan berjalan kaki  dengan beralaskan sepatu pemberian dan sepatu bekas dari tempat sampah. Setiap bulannya Sang Guru Sukwan itu mengaku menghabiskan  3 pasang sepatu. Kebanyakan sepatu-sepatu yang dikenakannya adalah sepatu bekas dari tempat sampah.

Waktu itu, pas pada awal mengajar di MTS Al-Zafariyah muridnya masih sedikit, seperti kelas 3 jumlah muridnya hanya ada 7 orang, yaitu Jajang Ahmad Husen, Nanang Kosim, ‘Neng binti Jakir, Ela, ‘Neng yayat, Ajeng dan Sulaeman. Namun bagi Dede Ahmad Riswandi, alias Aki Aceng tak menjadikan hilangnya semangat mengajar, malah teguh dalam pendiriannya, yakni niatan jadi guru bukanlah  untuk mengejar materi, melainkan ingin turut serta memajukan sekolah Islam.

Oleh karena itu, meskipun gaji guru sukwan memang tidak cukup buat menyejahterakan 3 anak dan isterinya (Siti Sumarni). Akan tetapi, hingga saat ini jadi guru sukwan tetap dilakoninya dengan tabah. Bahkan dirinya sudah tidak mengharapkan lagi menjadi Guru PNS, karena usianya sudah tak layak lagi. Apalagi aturan saat ini menjadi calon PNS itu, bukan diukur dengan jasa lamanya pengabdian, melainkan dengan batasan usia calon PNS.

Tak terasa waktupun cepat berlalu. Haripun begitu cepat berganti. Perjalanan  tahun ke tahun seperti sekejap mata berkedip. Begitupun pengabdian Dede Ahmad Riswandi yang akrab dipanggil Aki Aceng,  hingga tahun 2018, dedikasinya sebagai guru sukwan yang dilakoninya penuh ketabahan, tak terasa sudah 33 tahun lamanya.

“Namun  selama 33 tahun Aki jadi guru sukwan, baru satu kali mengikuti testing calon PNS, aki tidak lulus. Akibatnya menjadi kapok dan riskan mengikuti testing. Soalnya Aki tidak mau mengalami nasib malang seperti Ibu Cucu rekan Aki yang terus menerus mengikuti testing PNS, tapi nasibnya kurang beruntung dan tetap tidak lulus, sampai akhirnya tutup usia meninggalkan dunia,” ungkap Aki Aceng, tatkala  bertatap muka dengan Peliput di rumah kediamannya.

Lantas bagaimana apresiasi pemerintah terhadap jasa dari guru sukwan bernama Dede Ahmad Riswandi, alias Aki Aceng yang nasibnya tragis lebih dari Umar Bakrie?  Bahkan prestasinya sebanding dengan Umar Bakrie? Jika dalam lirik Lagu Iwan Fals menyebutkan, Guru Umar Bakri selama 40 tahun mengabdi, sudah banyak ciptakan menteri, profesor, dokter, dan insinyur, serta bikin otak seperti otak Habibie.

Ternyata walaupun Aki Aceng bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS), hanya sebatas guru sukwan, namun prestasinya sangat luar biasa tak kalah oleh Umar Bakrie. Menurut pengakuannya, ia sudah mencetak murid-muridnya menjadi sukses,  diantaranya ada yang menjadi profesor, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan 50 orang muridnya sudah menjadi guru PNS. Bahkan kepala sekolah MTS Al-Zafariyah sekarang, merupakan mantan muridnya.

Akan tetapi, sayang seribu kali sayang atas dedikasi dan prestasi dari Sang Guru Sukwan tersebut. Pasalnya pada saat ini, Pemerintah di negeri ini, dalam perihal pengangkatan  Pegawai Negeri Sipil (PNS), hanya berdasarkan angka usia calon PNS, bukan mengacu kepada kinerja dari jasa  lamanya pengabdian. Tentunya kenyataan itu akan membikin sakit hati bagi segenap guru sukwan. Apalagi ada guru sukwan senasib dengan Dede Ahmad Riswandi, alias Aki Aceng  yang nasibnya lebih tragis dari Umar Bakrie. ℗ Darma.

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker