web stats
Rubrik Khusus

Umbul Sudalarang, Dicopy dari Sub Buku Karya Ali Agus, SE

Umbul Sudalarang dari Buku 'Benang Merah Lahirnya Sukawening' Karya Ali Agus, SE

RAKSAGARUTNEWS.COM – SUKAWENING

Pada jaman kerajaan, nama Sukawening masih belum lahir tercatat dalam sejarah, apalagi diabadikan menjadi nama sebuah keperabuan. Namun waktu itu yang muncul adalah nama Sudalarang. Nama Sudalarang berdasarkan hasil  penelitian Tim Penyusun Sejarah Kabupaten Garut (1972-1973) yang dipimpin oleh Prof. Haryoso S telah ada disebutkan dalam rentang antara abad  XIV-XVI, yakni tatkala Godog (wilayah Kecamatan Karangpawitan) pada tahun 1445 M menjadi pusat penyebaran agama Islam, tercatat ada 10 keprabuan, yaitu 1) Keprabuan Galeuh Pakuan, 2) Keprabuan Sudalarang, 3) Keprabuan Cipicung, 4) Keprabuan Kadungora, 5) Keprabuan Timanganten, 6) Keprabuan Suci, 7) Keprabuan Batuwangi, 9) Keprabuan Kandangwesi, dan 10) Keprabuan Negara Sancang.

Umbul Sudalarang dari Buku 'Benang Merah Lahirnya Sukawening' Karya Ali Agus, SE.
Ali Agus , SE. Kades Sukawening, Penulis Buku ‘Benang Merah Lahirnya Sukawening’

Pada waktu itu nama Sudalarang sudah mencuat menjadi nama keprabuan (kerjaan kecil) yang menjadi rajanya adalah Prabu Wastu Dewa. Beliau merupakan putra dari Pangeran Laya Kusumah dan Buniwangi putri Sunan Rumenggong (Sunan Rumenggong cucunya Prabu Siliwangi/Sribaduga Maharaja). Kemudian setelah Prabu Wastu Dewa menjadi raja, diganti oleh Prabu Sanga Adipati I, lalu Prabu Sanga Adipati I diganti oleh  Dalem Nayawangsa.

Dikemudian hari, Dalem Nayawangsa ini memiliki cucu bernama Nyimas Ayu yang ditikah oleh Pangeran Saca Kusumah putra dari Pangeran Jolang alias Seda Krapyak (Sultan Mataram 1601-1613 M). Selanjutnya Dalem Nayawangsa diganti oleh Dalem Cakrajaya.

Tak terasa waktupun terus berlalu. Pada tahun 1652 Masehi, tatkala Kerajaan Mataram berkuasa, nama Sudalarang tidak disebut lagi menjadi keprabuan. Dalam buku “Guar Ki Sunda” karya Sobarna saat membahas mengenai keumbulan, nama Sudalarang memang tidak disebutkan menjadi Umbul Sudalarang, apalagi nama Sukawening. Namun pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram (tahun 1652 Masehi), disaat Kabupaten Limbangan pusat ibukotanya di Pasir Huut, hanya 3 Umbul yang dicantumkan, yaitu Umbul Limbangan, Umbul Wanakerta, dan Umbul Wanaraja.

Sedangkan pada buku Babad Mulabaruk, dikisahkan, pada jaman penjajahan Belanda, yakni dalam kurun waktu berkuasanya antara Radén Suria Nagara III, alias Pangéran Kusumahdinata IX yang terkenal dengan sebutan  Pangéran Kornél menjadi Bupati Sumedang, dan Tumenggung Adiwijaya (putra sulungnya Pangéran Kornél) menjabat sebagai Bupati Limbangan, nama Sukawening masih sama belum lahir mencuat kepermukaan publik dijadikan sebuah nama untuk kantor pemerintahan. Akan tetapi dalam buku Babad Mulabaruk, semasa  Pangéran Kornél (1791-1828), dan Tumenggung Adiwijaya (1813-1831) berkuasa, malah yang menjadi buah tutur adalah Radén Martadirana, alias Adipati Wiradiyasa sebagai Umbul Sudalarang.

 Ternyata berdasarkan Babad Mulabaruk, Raden Martadirana yang menjadi Umbul Sudalarang itu menikah dengan Nyimas Antiam adiknya Pangeran Kornel. Hasil pernikahannya memeiliki  momongan, diantaranya Rd. Nyimas Komariah yang menikah dengan Kiayi Muhammad Ali (Mbah Ali).

Konon pernikahan antara Mbah Ali dengan Rd. Nyimas Komariah, atas pesan dari Pangeran Kornel melalui surat yang ditujukan kepada Umbul Sudalarang (Raden Martadirana). Surat tersebut dititipkan kepada Embah Ali tatkala menempuh perjalanan pulang ke Kampung Sudalarang sehabis 7 tahun menimba ilmu dari Pesantren Demak.

Kemunculan nama Sudalarang pada  abad XIV-XVI telah tercatat dalam jaman sejarah kerajaan sebagai Keprabuan Sudalarang, maupun pada jaman penjajahan Belanda, semasa Tumenggung Adiwijaya (1813-1831) berkuasa menjadi Bupati Limbangan yang ada kaitannya dengan Umbul Sudalarang (Raden Martadirana) dan Kiayi Muhammad Ali (Mbah Ali),  merupakan salahsatu bukti yang faktual guna menelusuri  titimangsa munculnya nama Sukawening yang diabadikan menjadi Kantor Pemerintahan Kecamatan Sukawening, dan Kantor Pemerintahan Desa Sukawening.

Apalagi dengan adanya pembagian wilayah Kabupaten Limbangan yang seiring dengan munculnya nama Umbul Sudalarang serta  kekuasaan Tumenggung Adiwijaya ketika menjadi Bupati Limbangan, ditambah lagi ada kisah Mbah Ali dalam Babad Mulabaruk yang menyangkut Umbul Sudalarang, serta munculnya onderdistrik Nangkapait semasa Pemerintahan Belanda, maka titimangsanya bisa dijadikan sebagai rujukan untuk menjawab kalimat tanya, “Kapan munculnya nama Sukawening?”

Akan tetapi sebelum kita menuturkan munculnya nama Sukawening yang kini diabadikan sebagai nama Kantor Pemerintahan Kecamatan Sukawening dan Kantor Pemerintahan Desa Sukawening, tidak ada salahnya bila kita mengulas sejarah berdirinya Pondok Pesantren Mulabaruk sebagai cikal bakal  Kampung Mulabaruk, kendatipun hanya mengulas dengan sekilas. Namun penulis mengharapakan  warga masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Sukawening mengetahuinya melalui buku ini.  Terlepas percaya atau tidak, bahwa pendiri Pondok Pesantren Mulabaruk telah berjasa membuka hutan belantara yang berbukit-bukit dijadikan pesawahan, kolam, dan kebun. Sehingga terciptalah kondisi alam seperti pada saat ini di wilayah Desa Sukawening dan sekitarnya. ℗ Ali Agus, SE. Benang Merah Lahirnya Sukawening.

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker