web stats
Pendidikan

Kepala SDN 1 Maripari Bangun Jamban Swadaya

Bangun Jamban Secara Swadaya SDN 1 Maripari Topang Rencana Kerja Pemerintah

RAKSAGARUTNEWS.COM – SUKAWENING

SDN 1 Maripari didirikan pada tahun 1910. Sekolah ini merupakan sekolah paling pertama berdiri di wilayah Kecamatan Sukawening.  Sayangnya hingga awal November tahun 2018, satuan pendidikan tersebut sungguh menyedihkan, salahsatunya di lingkungan sekolah itu belum memiliki jamban untuk para siswa dan pelaksana teknis pendidikan. Sehingga warga sekolah sangat kesulitan ketika ingin buang air kecil maupun  hendak BAB. Tentunya hal tersebut benar-benar sangat memicu Kepala SDN 1 Maripari, Wawan Nursukmawan, S.Pd bersama para guru berupaya membangun jamban swadaya.

Sebenarnya semenjak Wawan Nursukmawan menjadi Kepala SDN 1 Maripari, niatan membangun jamban untuk kepentingan warga sekolah, langsung tersirat dalam benaknya. Niatan itu semakin tergugah sewaktu KBM berlangsung, ada saja siswa yang keluar kelas dengan tergesa-gesa menuju jamban mesjid, atau pulang dulu kerumahnya.

Sedangkan para pelaksana teknis pendidikan, jika satu saat hendak ke jamban, biasanya numpang di jamban milik masyarakat yang berdekatan dengan lingkungan sekolah, atau menumpang di jamban milik salahseorang guru di sekolah tersebut.

Kepala SDN 1 Maripari Bangun Jamban Swadaya
Wawan Nursukmawan, S.Pd Kepala SDN 1 Maripari Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut

Menurut Wawan, memang sangat menyedihkan apabila para pelaksana teknis pendidikan SDN 1 Maripari tidak segera mengambil sikap membangun jamban dengan anggaran swadaya. Soalnnya ketika berlangsungnya Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di sekolah tersebut, tak luput dari peserta didik dengan mendadak ingin buang air kecil maupun  hendak Buang Air Besar (BAB). Setelah pamit kepada guru kelasnya, ia tergesa-gesa langsung berlari menuju jamban. Ada siswa yang berlari memilih  ke jamban  mesjid An-Nawawi, dan adapula yang menuju ke jamban rumahnya masing-masing.

Seperti halnya yang disaksikan oleh kasat mata Peliput, seorang siswa kelas satu yang akrab dipanggil Ilham. Setiap ingin buang air kecil, ia selalu tergesa-gesa berlari pontang-panting menuju ke rumah kakeknya dengan napas tersenggal-senggal. Lantas bergegas pergi lagi berlari ke sekolah. Bahkan suatu ketika, sewaktu ia berlari dari sekolah dengan kaki telanjang menuju mesjid An-Nawawi untuk buang air kecil, si anak itu sempat jatuh tersungkur, bagian sikut lengannya, lutut dan ibu jari kakinya terluka berdarah.

Ternyata sebagian besar para siswa SDN 1 Maripari Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut, ketika berlangsungnya KBM, tiba-tiba ada para siswa hendak buang air kecil, mereka selalu menumpang di jamban mesjid An-Nawawi. Namun tatkala ingin BAB, mereka tergesa-gesa menuju ke rumahnya masing-masing.

Realita itu menurut pengakuan Kepala SDN 1 Maripari, Wawan Nursukmawan, S.Pd benar-benar menjadi beban moral. Maka dari itu,  pihak sekolah segera berupaya membangun jamban swadaya. Pasalnya, andai kata tidak segera dibangunnya, pihak sekolah  sangat riskan sekali setiap berlangsungnya KBM, seperti adanya  siswa yang tergesa-gesa pergi ke jamban mesjid, dikhawatirkan karena tergesa-gesa lupa menyiramnya.

Ditambah lagi, ujarnya, sewaktu siswa terburu-buru pergi ke jamban, pada saat melintas jalan desa, tidak memperhatikan ada kendaraan yang melaju dari arah selatan maupun utara, atau siswa tidak memperhatikan terhadap jalan yang dipijaknya. Hal itu membikin miris pihak sekolah terhadap peristiwa yang tidak diharapkan.

Dengan kondisi seperti itu, ungkapnya, apalagi seiring dengan Program Nasional Sekolah Bersih, Hegienis, dan Sehat, sebagaimana tertuang pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2018, diantaranya Sekolah Dasar (SD) wajib memiliki WC sesuai rasio penduduk sekolah, “Maka saya selaku kepala sekolah bersama para guru  segera bermusyawarah untuk membangun jamban dengan anggaran swadaya,” kata Wawan.

Alhasil, ucapnya, alhamdulillah dengan adanya background tersebut, pada awal November tahun 2018 kemarin, pihak sekolah telah membangun dua ruang jamban. Masing-masing berukuran  3 x 1,5 m. Posisinya bergandengan dengan ruang kantor.

Sayangnya, ujar Wawan, meskipun dua ruang jamban swadaya telah dibangunnya, namun pihak sekolah hingga saat ini masih kesulitan air. Sedangkan dalam RKP tahun 2018 menyatakan, bahwa Sekolah Dasar (SD) wajib memiliki 1 sumur bor, atau akses terhadap PDAM setempat. “Untuk itu demi terciptanya sekolah yang bersih, hegienis, dan sehat, kami mengharapkan sekali bantuan dari pemerintah,” pungkasnya. ℗*Darma*

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker