web stats
Pendidikan

Kisah Rosadah, Guru Honorer di Pelosok Garut

Rosadah, Guru Honorer di Wilayah Selatan Garut Berharap Perhatian Pemerintah

RAKSAGARUTNEWS.COM – PAKENJENG

Menjadi seorang guru atau tenaga pendidik memang sebuah pekerjaan yang mulia, mereka mempunyai tugas dan tanggungjawab yang cukup berat, sehingga menjadi seorang guru bukanlah profesi yang sembarangan, di tangan merekalah masa depan peserta didik dipertaruhkan.

Jika dinilai dari segi pendapatan, profesi guru belum bisa mensejahterakan kehidupan seseorang, terlebih mereka yang masih berstatus honorer. Namun hal itu, tidak lantas menyurutkan tekad Rosadah, untuk mengabdikan diri sebagai guru.

Rosadah, perempuan kelahiran Garut, 11 Februari 1979 lalu berkeyakinan, menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang mulia. Tak pelak, meski profesi yang dijalaninya tidak menjamin hidupnya sejahtera, namun ia tetap bertahan dengan profesi yang sudah ditekuninya selama 14 tahun itu.

Rosadah, warga Kp. Tanjungsari, Desa Wangunjaya, Kecamatan Pakenjeng, Garut ini sejak kecil bercita-cita menjadi seorang guru, ia lebih memilih berkecimpung di dunia pendidikan dengan mengabdi di SDN 3 Depok, dengan harapan dapat berbagi sedikit ilmu yang telah didapatnya.

Menempuh perjalanan sejauh 3 Km dengan berjalan kaki, ia lakoni setiap hari. Panas terik matahari serta debu yang beterbangan, sudah biasa didapatinya sepanjang perjalanan ke sekolah. Namun, yang memprihatinkan ketika hujan turun tanpa permisi, jarak pemukiman penduduk tak sedekat di perkotaan, tempat untuk berteduh pun sulit ia temukan hingga rela berbasah kuyup ketika mengajar.

Kisah Rosadah, Guru Honorer di Pelosok Garut
Suasana Kelas Tempat Rosadah Mengabdikan Diri Sebagai Tenaga Pendidik

“Syukur alhamdulillah kalau ada tetangga yang berpapasan memakai motor bisa ikut numpang, walaupun tidak sampai tujuan lumayan bisa menghemat tenaga dan mempersingkat waktu,” ucapnya.

Karena memang mencintai dunia pendidikan, lantas ia mendirikan PAUD di kediamannya, semua itu dilakukan atas dasar kepeduliannya kepada warga sekitar. Aktivitas tambahan itu dilakukannya seusai mengajar di sekolah dasar. Ia bercita-cita untuk memiliki bangunan PAUD yang terpisah dari rumahnya, namun apa daya dengan gaji honorer dan suami hanya pekerja serabutan cita-cita itu belum terlaksana.

Saat ini harapan terbesar Rosadah yang merupakan sarjana Pendidikan Agama Islam ini ialah diangkat menjadi ASN, namun apa daya keberuntungan belum berpihak pada dirinya. Aturan pemerintah yang membatasi usia pelamar hingga 35 tahun, tak memungkinkan baginya untuk menjadi seorang ASN, meski telah puluhan tahun ia mengabdi.

Saat ini ia hanya berharap pemerintah memperhatikan nasib guru honorer, padahal menurut Rosadah, tanggung jawabnya sama berat dengan seorang ASN, harus mendidik dan mencerdaskan anak-anak didik.

“Jelas sekali, jauh dari kata cukup, yang menyedihkan bagi kami yang bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun mengabdi membantu pemerintah mensukseskan program pendidikan, namun ketika ada kesempatan menjadi ASN, malah diberikan kepada orang lain yang dibawah usia 35,” ujar Rosadah. **Lintar**

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker