web stats
Pendidikan

Kepala SMPN 2 Kersamanah Aplikasikan Disiplin WKSS

Disiplin WKSS SMPN 2 Kersamanah, Terinspirasi dari Siswa Telat Masuk Ruang Kelas

RAKSAGARUTNEWS.COM – KERSAMANAH

Terinspirasi dengan adanya siswa yang telat masuk ruang kelas untuk melaksanakan Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM), Kepala SMPN 2 Kersamanah Garut Jawa Barat, Iwan Ridwan, S.Pd, kini masih eksis memprioritaskan kehadiran peserta didik di sekolah tersebut dengan mengaplikasikan disiplin Waktu Kehadiran Siswa di Sekolah (WKSS).

Sebenarnya kegiatan Disiplin WKSS, telah diaplikasikannya pada tahun ajaran baru 2016/2017  semasa Iwan Ridwan menjadi guru kelas di SMPN 3 Limbangan Garut Jawa Barat dengan menerapkan disiplin waktu siswa masuk ruang kelas. Menurutnya, munculnya  inspirasi penegakan disiplin tersebut,  termotivasi tatkala suasana saat berlangsungya Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) menjadi tak nyaman.

“Waktu itu, ketika saya mengajar di SMPN 3 Limbangan menjadi guru kelas lagi melaksanakan KBM, ada beberapa siswa yang masuk kesiangan. Otomatis implementasi KBM-nya terganggu. Pasalnya pintu masuk kelas oleh siswa yang kesiangan hadir mengikuti pelajaran, sebelum masuk kelas, selalu berulangkali diketuknya,” ujar Iwan.

Hal tersebut, ucapnya,  sangat mengganggu sekali suasana kegiatan belajar. “Atas peristiwa itu, akhirnya saya terinspirasi dan termotivasi untuk mengadakan perjanjian bersama, antara guru dan siswa mengenai kedisiplinan waktu masuk ruang kelas, meskipun perjanjiannya hanya sebatas perjanjian verbal, yakni Jika kamu datang terlambat, tolong jangan masuk! Begitupula jika saya terlambat, larang saya masuk kelas! Perjanjian tersebut, kemudian saya sampaikannya kepada kepala sekolah, dan disetujuinya,” ungkap Iwan.

Selanjutnya, kata Iwan, sewaktu kedisiplinan itu dilaksanakan. Satu saat ada siswa yang telat masuk kelas. Maka siswa tersebut harus konsisten tidak boleh masuk kelas, dan harus menunggu di teras depan kelas, hingga jadwal KBM-nya selesai.

“Kebetulan waktu itu, ada guru yang menayakan, Kenapa kamu tidak masuk kelas, Nak? Jawabanya, saya malu dengan kesepakatan disiplin masuk kelas dengan Pak Iwan,” kata Pria kelahiran 9 Desember 1969, kembali menuturkan pengalamannya kepada wartawan media ini di ruang kantornya.

Intinya, kata Iwan,  hikmah yang diharapkan dari penerapan kedisiplinan yang dilaksanakan secara konsisten tersebut, yakni bukan siswa tidak masuk itu berhubung   takut kepada guru galak. Namun siswa yang tidak masuk kelas untuk mengikuti KBM, karena pada dirinya telah tertanam kesadaran dari konsistensinya melaksanakan kedisiplinan.

Rupa-rupanya dengan kesuksesan menerapkan kedisiplinan waktu siswa masuk ruang kelas semasa dirinya mejadi sosok guru, di-follow up-nya setelah beberapa bulan diangkatnya menjadi Kepala di SMPN 2 Kersamanah pada November 2017.

Tentunya penerapan disiplin waktu kehadiran siswa di di SMPN 2 Kersamanah itu, bukan untuk sejumlah siswa satu rombel masuk ruang kelas, melainkan harus diaplikasikannya bagi seluruh peserta didik di sekolah ini yang berjumlah 890 siswa, terdiri dari 441 laki-laki, dan 449 perempuan, serta  buat 38 guru, yaitu 19 guru laki-laki dan 19 perempuan, ditambah 11 Tendik, agar melaksanakan Disiplin Waktu Kehadiran Siswa di Sekolah (Disiplin WKSS) dengan konsisten.

“Untuk itu, sebelum saya laksanakan kegiatan disiplin waktu kehadiran untuk siswa di sekolah, maupun buat para pelaksana teknis pendidikan, terlebih dahulu kita sosialisasikan kepada  para guru, siswa dan orangtua siwa. Kita sosialisasikan selama dua bulan bersama guru-guru, dan komite sekolah,” ungkapnya.

Program disiplin waktu kehadiran siswa di sekolah ini, imbuhnya, sudah ada persetujuan dari komite sekolah dengan melibatkan orangtua siswa. Hal itu demi membantu program-program sekolah yang berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

“Kemudian setelah dicanangkannya disiplin waktu kehadiran siswa di sekolah pada tahun ajaran baru, maka kehadiran saya setiap pagi, jam 06.30 WIB. Lantas pada pukul 07.00 WIB, pintu gerbang sekolah kita tutup. Mohon maaf ketika anak yang telat datang ke sekolah tidak akan dimasukan,” katanya sewaktu bersua di ruang kantornya.

Menurut Iwan, siswa yang telat hadir ke sekolah, harus tercatat di buku piket, dan disuruh pulang. Kemudian besoknya dipanggil ke ruang BP. Selanjutnya dengan jeda 1 hari, atau dua hari, kita panggil orangtua siswa tersebut. Semua orangtua siswa yang kebetulan anaknya telat hadir di sekolah, ketika dipanggil, meyatakan, bahwa sangat setuju sekali dengan adanya kedisiplinan yang benar-benar dilaksanakan.

Mengenai kedisiplinan tersebut,  ternyata bukan hanya sebatas diterapkan di ruang lingkup sekolah saja. Akan tetapi  Iwan konsisten dengan  menegakan kedisiplinan dilingkungan keluarganya. Setiap jam 06.00 WIB, Ia selalu berangkat ke sekolah. Namun sewaktu istrinya  yang mengajar di SMPN 3 Limbangan ingin berangkat bersama diantarkannya, atau anaknya yang ingin diantarkan sekolah, jika jam 05.45 WIB belum siap berangkat, maka pria kelahiran Desember 1969 itu langsung secara santun pamitan kepada anak istrinya berangkat dari Kampung Baru, Desa Simpenkidul Kecamatan Balubur Limbangan menuju SMPN 2 Kersamanah yang beralamat di Jalan Raya Sukamerang No.30 Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut Jawa Barat.

“Jadi pada intinya, apabila aplikasi kedisiplinan itu ingin sukses, tentunya kita harus konsisten dalam hal melaksanakan aturan dengan disiplin. Jika dalam menegakan kedisiplinan itu tidak konsisten, jangan harap kesuksesan akan diraih,” pungkasnya.  ℗(Darma)

Tag
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker